Ini Perkembangan Refarming Pita Frekuensi Seluler 2.1 GHz

Jakarta, Kominfo – Memasuki minggu ke-12 penataan ulang (refarming) pita frekuensi radio 2.1 GHz, proses telah mencapai 32,70% dari rencana kerja refarming. Penataan yang dilakukan untuk keperluan penyelenggaraan jaringan bergerak seluler. “Pemerintah melakukan penataan ulang atau refarming frekuensi 2,1 GHz. Bila telah rampung, akan memberikan imbas makin lancarnya internet di perkotaan,” tutur Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di Jakarta, jelang akhir November tahun lalu, tepatnya sehari setelah penataan ulang frekuensi 2,1 GHz dimulai Selasa (21/11/2017) tengah malam.
Kebijakan refarming merupakan kesepakatan bersama antara Pemerintah dengan pengguna pita 2.1 GHz eksisting pada November 2016. Dalam kesepakatan itu setelah proses seleksi, PT. Hutchison 3 Indonesia (H3I) ditetapkan sebagai Pemenang Seleksi Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz Tahun 2017 pada Blok 11 & PT. Indosat, Tbk. (Indosat) ditetapkan sebagai pemenang seleksi pada Blok 12. PT. Indosat Tbk menjadi operator pertama yang melaksanakan refarming di cluster Kalimantan Tengah dan Kepulauan Bangka Belitung.

Gambar Rencana Refarming Frekuensi

Tujuan utama refarming pita frekuensi radio 2.1 GHz ini agar mendapatkan tingkat pemanfaatan spektrum paling optimal. Langkahnya dengan membuat penetapan pita frekuensi radio yang berdampingan (contiguous) untuk setiap penyelenggara jaringan bergerak seluler. Hasil akhirnya akan memberikan solusi terbaik mengatasi network congestion sehingga masyarakat pengguna layanan seluler dapat menikmati kualitas yang lebih baik.
Proses penataan dilakukan karena penetapan kanal pada rentang 2,1 GHz tersebut berada pada kondisi yang tidak berdampingan dengan pita frekuensi radio yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan pita frekuensi radio yang berdampingan, maka akan memberikan keuntungan yang maksimal bagi semua operator dalam menggelar jaringan seluler. Dampaknya, masyarakat akan merasakan kecepatan dan kualitas akses mobile broadband yang relatif jauh lebih baik.

Gambar Video Conference dengan UPT Monitor SFR dan operator telekomunikasi.

Kerja Kolaborasi
Refarming merupakan kolaborasi Direktorat Penataan Sumber Daya, Direktorat Pengendalian SDPPI, dan UPT Bidang Monitor Spektrum Frekuensi Radio seluruh Indonesia. Setiap pegawai yang bertugas memastikan agar blok-blok frekuensi yang akan diduduki oleh pengguna pita 2.1 GHz telah bersih dari gangguan dan siap untuk digunakan. Tak hanya itu, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) juga terus melakukan pendampingan sejak awal proses refarming.
Dukungan penuh penyelenggara pita 2.1 GHz pun menjadi salah satu kunci keberhasilan refarming hingga saat ini. Kerja apik dan dukungan seluruh operator telekomunikasi. Misalnya XL dan Telkomsel, meskipun tidak ditetapkan sebagai pemenang pada seleksi yang lalu, namun tetap komit mendukung refarming. Kolaborasi itu pun tampak dalam setiap refarming yang dipantau melalui video conference sebagai wadah komunikasi pelaksana dari pemerintah dengan penyelenggara pita 2.1 GHz. Hampir setiap hari, pegawai Kominfo dan stakeholders melakukan pemantantauan. Video Conference sering dilakukan mulai pukul 23.00-03.00 waktu setempat dengan UPT Monitor SFR dan operator telekomunikasi.
Selama refarming dapat dipastikan ada beberapa kendala. Hal yang sering ditemui mungkin pada pengguna layanan pita 2.1 GHz eksisting. Hal yang kerap ditemui misalnya BTS yang down saat refarming. Selain itu ada pula masalah data administrasi network element yang kurang sinkron.  Namun, dengan komunikasi dan kerja sama yang baik masalah itu dapat segera diselesaikan. Tak hanya itu, ada keadaan force majeure seperti meletusnya Gunung Agung pada Desember 2017 lalu. Namun, segera diatasi dan tidak menghambat refarming di wilayah Bali yang saat ketika itu sedang dilakukan oleh Indosat.

Gambar Perkembangan Refarming Minggu ke-11

 

Kualitas Data Lebih Baik
Sejak 2015 lalu, Kominfo menata ulang alias refarming frekuensi dan meluncurkan jaringan internet generasi keempat (4G).  Secara keseluruhan, proses refarming ini terbagi dalam 42 cluster (wilayah) yang rencananya diselesaikan dalam waktu 156 hari kalender. Dalam proses tersebut akan dilakukan 159 kali proses perpindahan blok oleh 3 operator yang melibatkan jumlah site lebih dari 8000 BTS.
Pemerintah optimis jaringan 4G mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui inovasi-inovasi digital. Saat ini, jaringan 4G sudah bisa dinikmati sekitar 300 kota dan kabupaten se-Indonesia. Rudiantara menargetkan total 514 kota dan kabupaten bisa terselimuti 4G pada 2019 mendatang. “Refarming sudah dimulai, Insya Allah April 2018 selesai. Biar kita cepat menikmati kualitas layanan data yang lebih baik di kota,” pungkas Menteri Rudiantara.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *